Skip navigation

Duhai Perempuanku, Nalini

Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan.

Duhai Perempuanku, Nalini

Yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.

Duhai Perempuanku, Nalini

Yang Maha Perkasa dan Maha Memuliakan menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.

Duhai Perempuanku, Nalini

Semoga Yang Maha Sempurna dan Maha Tinggi menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.

Duhai Perempuanku, Nalini

Yang Maha Maha Bercahaya dan Maha Kekal menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta.

Dan itulah harapanku terhadap perempuanku bernama Nalini.

Aku pergi pagi, bahkan tengah malam, bahkan tidak mengenal waktu.

Dengan semangat mencari duniawi dan demi sebuah tugas

Jika angkot macet, langsung berganti sewa taksi

Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Aku pulang malam bahkan kadang tidak pulang untuk jangka waktu lama

Dengan jasad yang kelelahan

Sampai di rumah mendekam sampai pagi datang

Mungkin Aku lupa

Sang Rasul bagaikan rahib di malam hari

Dan menjadi singa di siang hari

Sementara Aku

Tak peduli siang tak peduli malam

Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat sedikit aku ingin renungkan

Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang

Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang

Apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu meradang

Jujur saja, untuk urusan perutku bukan

Buat beli martabak atau nasi

Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat Aku tinggal bukan

Buat beli keramik, AC ataupun busa

Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang Aku rindukan bukan

Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman

Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika Aku hidup hanya untuk itu semuanya

Maka harga diriku

Nilainya sama dengan apa yang Aku makan

Nilainya sama dengan apa yang Aku keluarkan dari perut hitam

Nilainya sama dengan apa yang Aku rindukan

Karena jasadku tak ubahnya tembolok karung

Tempat penyimpanan semua makan yang Aku makan

Karena jasadku tak ubahnya perekat

Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu Aku bangun sejuta pundi uang

Ternyata Aku lupa bahwa kelak yang ku bangun itu pasti ku tinggalkan

Ternyata Aku lupa bahwa tempat tinggalku sesudahnya hanya lubang yang kelam

Tapi sahabat

Jika engkau hidup untuk ibadah

Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan

Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang

Dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah

Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan

Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat

Janganlah terlena dengan kesenangan fana

Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia

Itulah yang Allah berikan sebagai hak para musyrikin di dunia

Tiada usah kamu iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya

Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka

Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat

Jangan sia-siakan hidup di dunia

Bangun rumah ibadah

Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan Tuhan-mu

Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan ibadah

Jika kau diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan lurus

Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya

Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Sahabat

Jalan ibadah inilah yang membedakan kita

Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya

Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya

artinya Akupun sama dengan mereka

Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga

Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan

Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhkupun bakal dicabut dari raga

Mari sahabatku kita berpikir ulang…

tentang kesalahan-kesalahan dimasa lalu yang mungkin tidak termaafkan didunia,

yang mungkin manusia tidak akan pernah memaafkan…

Tapi disana nanti…biarlah kita di maafkan oleh Tuhan.


Sang Sabdopalon berkata ;

“Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia
manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam besar. Paduka akan pergi
ke akhirat mana? Apa tidak tersesat? Padahal akhirat itu artinya
melarat, dimana-mana ada akhirat. Bila mau hamba ingatkan, jangan
sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara.
Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat
dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya
manusia sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.

Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. Apa
tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya
hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur. Itu
perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata. Jika akhirat manusia mati
malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan
sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang
mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan
paksaan, tidak salah dipaksa.

Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu
tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia
dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya
cahaya bintang dan rembulan. Bertemunya cahaya menyala menjadi satu,
tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu.
Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjenga Nabi Musa toh tidak
tahan melihat Gusti Allah. Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya
yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis
malaikat. Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata
wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah
mati hidup.

Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang
langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak
merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Budha, jika raganya sudah tua,
sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua.
Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya. Dunia manusia itu
langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga
yang berasal dari ruh idhafi.

Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di
tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat
cipta yang hening. Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga. Apapun
milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah. Denyut jantung sebelah
kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir
pengetahuan. Pengetahuan manusia beragama Budha. Ruh berjalan lewat
langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan,
hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan.
Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat. Di situ budi membuat istana
baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun. Di tengah rahim
ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga
dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz.
Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan,
yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.

“opini” sebuah bumbu jurnalistik yang sedikit mencemooh kerahasiaan sebuah institusi pendidikan yang memang tertutup dan terjaga kerahasiaannya, apakah hal tersebut tidak dapat dianggap membahayakan kerahasiaan para Senopati junior dan calon pejabat  Pejalan Sunyi di masa depan.

: The Jakarta Post - Tuesday, April 12, 2011 :

A relatively secluded 5-hectare compound located in South Sentul district, Bogor, West Java, houses the country’s high-profile State Intelligence Institute (STIN).

While no signs identify the compound, locals ranging from ojek (motorcycle taxi) drivers to shopkeepers are familiar with the compound, which they dub the “BIN school”.

Upon entering the compound, warning signs reading “taking photos are prohibited” can be seen in several corners.

Established in 2004 during the term of then National Intelligence Body (BIN) chief AM Hendropriyono, STIN graduates have an equivalent four-year university degree, and are contracted as civil servants and future BIN officials.

The agency spends at least Rp 5 billion (US$568,000) annually on the school, which has complete facilities from a tennis court to a gym.

Every year, BIN officials scout 30 to 40 top-notch students from the country’s most prestigious high schools, particularly from Taruna Nusantara school in Magelang, Central Java, to enter the program.

At STIN, the students are sworn to secrecy, live in an exclusive boarding house and learn to become spies from masters of the profession.

The students are also believed to master several foreign languages as well as an international perspective.

“You are seeing the best breed of male and female spies. They are tall and in good shape, they are smart and have an exceptional manner. In the real world you’d be surprised to discover that they are spies,” said an STIN instructor, who refused to be named over fear of his safety.

“However, their analysis capabilities need more sharpening. And their handbooks need to be renewed because they’re using an obsolete version,” he said.

There is currently a plan to adopt the latest handbooks used by high-profile British spy agency MI5.

It remains unclear as to how BIN handles the mental fragility of students, as most students at their age usually enjoy more social freedom.

It is also unclear whether the families of the students understand the importance of confidentiality and the consequences the students will face if this is breached. The school’s first and second batch graduate ceremony was held in 2009, with each batch producing around 30 graduates from two programs: for agents and for analysts.

However, secrecy on the identity of graduates was poor. Upon graduation, the students’ parents, siblings and grandparents were invited to attend the graduation ceremony at the school’s compound.

Several photos of the graduates with their parents, however, can easily be found on the Internet through Google search engine, exposing the future agents’ identities to the public.

Every year, BIN recruits around 50 full-time agents, around 30 of which are sourced from STIN while the remaining are recruited from universities, the State Code Institute (STSN) or the military and police force. The STSN was set up in 2002, mostly for BIN’s supporting staff.

The new recruits undergo a management traineeship like that conducted in the private sector.

The full-time agents are stationed in various ministries, state companies and other sectors. Some are even tasked to infiltrate political parties and radical Islamic groups — becoming their members for more than 10 years.

They are also tasked to recruit informants and second-layer agents in various sectors including journalists, activists, foreign emissaries and businesspeople.

While stationed overseas, the personnel usually claim to be businessmen.

ADDITIONAL REPORTING BY JERRY ADIGUNA



Taukah kau, aku ini menyesal
Akan apa yang aku lakukan
Padamu,
Saat itu..

Mengingatnya pun aku terasa sakit
Membayangkannya pun aku merasa tercabik
Kusadari aku begitu picik
Aku tidak menyalahkanmu
Mungkin aku pantas dikatakan seperti itu
Aku hanya ingin semuanya kembali normal
Memang sakit
Memang terasa

Salahkan aku yang membalik keadaan
Salahkan aku yang bermain dengan waktu
Salahkan aku dan bunuhlah aku
Tikam aku
Buatku kaku

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama ….

(Dikutip dari puisi karya penyair Indonesia, Taufik Ismail: “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”)

Tapi saya bangga berbendera Merah Putih dan tersematkan didada.

indonesia

PERSONNEL
Total Population: 237,512,352
[2008]
Population Available: 125,530,542
[2008]
Fit for Military Service: 104,496,911 [2008]
Reaching Military Age Annually: 4,291,700 [2008]
Active Military Personnel: 316,000 [2008]
Active Military Reserve: 400,000 [2008]
Active Paramilitary Units: 207,000 [2008]

ARMY
Total Land-Based Weapons: 2,122
Tanks: 425 [2004]
Armored Personnel Carriers: 684 [2004]
Towed Artillery: 293 [2004]
Self-Propelled Guns: 70 [2004]
Anti-Aircraft Weapons: 515 [2004]

NAVY
Total Navy Ships: 111
Merchant Marine Strength: 971 [2008]
Major Ports and Harbors: 10
Aircraft Carriers: 0 [2008]
Destroyers: 0 [2008]
Submarines: 2 [2004]
Frigates: 15 [2004]
Patrol & Coastal Craft: 24 [2004]
Mine Warfare Craft: 12 [2004]
Amphibious Craft: 26 [2004]

AIR FORCE
Total Aircraft: 313 [2004]
Helicopters: 194 [2004]
Serviceable Airports: 652 [2007]

FINANCES (USD)
Defense Budget: $4,740,000,000 [2008]
Foreign Exch. & Gold: $56,920,000,000 [2007]
Purchasing Power: $843,700,000 [2008]

OIL
Oil Production: 837,500 bbl/day [2007]
Oil Consumption: 1,100,000 bbl/day [2006]
Proven Oil Reserves: 4,430,000,000 bbl [2007]

LOGISTICAL
Labor Force: 109,900,000 [2007]
Roadways: 391,009 km
Railways: 6,458 km

GEOGRAPHIC
Waterways: 21,579 km
Coastline: 54,716 km
Square Land Area: 1,919,440 km

Rangking : 13

**Sources: US Library of Congress; Central Intelligence Agency. Last Updated: 2/12/2009 **

line

Honesty is the First Chapter of  The Book of Wisdom

and The Book is Countinuing

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.