
Perjanjian Kerjasama Pertahanan atau Defence Coorporation Agreement ( DCA ) antara Indonesia dan Singapura disebutkan bahwa Singapura mendapatkan porsi lahan perang-perangan mereka pada 3 titik atau daerah dan juga diberi izin untuk melibatkan mitra ketiga didalam menjalani latihan perang-perangan yang tentunya harus mendapatkan izin dari dan ditinjau oleh pemerintahan Indonesia , yakni :
- Alpha I
- Alpha II
- Bravo
Ketiga wilayah ini merupakan wilayah laut dan udara yang memanjang mulai dari Kepulauan Riau, Karimun, Selat Karimata, Pulau Natuna dan menuju perairan Cina Selatan.
Sedangkan Indonesia Raya mendapat paket tambahan berupa “Ekstradisi” buronan para koruptor hitam yang bersembunyi dan menyembunyikan asetnya dinegara tersebut.
Namun, kini semuanya menuai masalah…baik didalam negeri Republik ini maupun sifat angkuh dari negeri singa tersebut.
Entah apa yang berada didalam otak para negosiator yang terhormat Republik ini didalam masa-masa negosiasi panjang dan melelahkan tersebut, apakah semua pihak turut terlibat ? sudah pasti pihak Departeman Pertahanan ikut andil dengan disertai pihak Departemen Luar Negeri, tapi apakah pihak lainnya juga ikut diturut sertakan didalam mengkaji, menganalisa dan memberikan pandangan juga mungkin dilampirkan beberapa informasi yang sangat sensitif dari pihak lainnya yang bekerja secara rahasia di Republik ini ?!
Dan kini sang negeri singa itu ingin mengambil alih dari isi perjanjian tersebut…Penembakan rudal adalah alasan mengapa Republik ini merasa sangat dirugikan dari sikap negeri tetangga tersebut yang mana hal tersebut tidak tercantum didalam draft perjanjian tersebut.
Bagaikan kebakaran jenggot, hal tersebut mendapat reaksi keras dari dalam negeri Republik ini.
Lalu kenapa hal tersebut tidak dibicarakan atau setidaknya disinggung didalam pembahasan perjanjian tersebut sebelum diambil keputusan untuk ditandatangani oleh kedua Menteri Pertahanan ?
Apakah hal ini harus ditarik kembali atau dibatalkan ?
Lalu bagaimana dengan para koruptor hitam dan asetnya yg diparkirkan dinegeri tersebut ?
Apa dalih para petinggi Republik ini yang ikut terlibat didalam pembahasan perjanjian tersebut guna menjabarkan, mengapa pada akhirnya perjanjian tersebut menuai masalah ?
Sudahlah…lebih baik kamu, hey si Bajil, melihat dan mengamati saja, jangan terlalu banyak bertanya karena para Top Negosiator Republik ini tentunya sudah memperhitungkan apa-apa yang akan terjadi jika perjanjian tersebut menjadi masalah dan bagaimana mengatasinya dan menyikapinya.
Setelah pasir dan kini juga lahan latihan perang-perangan !!!…*suka !!!*…

