
Sang Sabdopalon berkata ;
“Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia
manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam besar. Paduka akan pergi
ke akhirat mana? Apa tidak tersesat? Padahal akhirat itu artinya
melarat, dimana-mana ada akhirat. Bila mau hamba ingatkan, jangan
sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara.
Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat
dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya
manusia sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.
Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. Apa
tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya
hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur. Itu
perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata. Jika akhirat manusia mati
malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan
sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang
mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan
paksaan, tidak salah dipaksa.
Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu
tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia
dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya
cahaya bintang dan rembulan. Bertemunya cahaya menyala menjadi satu,
tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu.
Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjenga Nabi Musa toh tidak
tahan melihat Gusti Allah. Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya
yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis
malaikat. Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata
wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah
mati hidup.
Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang
langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak
merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Budha, jika raganya sudah tua,
sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua.
Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya. Dunia manusia itu
langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga
yang berasal dari ruh idhafi.
Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di
tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat
cipta yang hening. Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga. Apapun
milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah. Denyut jantung sebelah
kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir
pengetahuan. Pengetahuan manusia beragama Budha. Ruh berjalan lewat
langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan,
hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan.
Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat. Di situ budi membuat istana
baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun. Di tengah rahim
ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga
dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz.
Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan,
yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.